Saturday, January 27, 2007

Surat Untuk Ayah

Menemui Ayah..,

Assalammualaykum wr, wb,.
Ayah, maaf atas suratku untuk kali ini. Kubuat jauh hari sebelum kau cuti untuk ber-lebaran bersama keluarga tercintamu. Senang dan bahagianya hati ini membayangkan kau akan tersenyum dan tertawa bahagia bersama mereka. Alhamdulillah, Allah swt. memberikan kesempatan dan pilihan yang begitu indah bagimu dalam menjalani hidup ini. Sedang aku selalu merasa sendiri, tapi tidak apa Allah swt. selalu ada di hatiku walaupun aku bukan orang shalih sepertimu.

Dalam hidupku, ada dua hal yang hanya kukatakan pada ayahku, saat aku sekolah lagi dan saat aku mengatakan akan menikah. Dan dua hal yang kuminta darinya, menghadiri wisuda serta meng-khitbah. Begitupun ingin kukatakan padamu dua hal agar kau mengetahuinya dan kuharap ini tak membuatmu merasa bersalah atau bersedih.

Pertama, sebenarnya aku bisa bersekolah di Undip untuk Pascasarjana K3, atau K3 FKM UI dan kaupun mengatahuinya bila itu cita-citaku, tapi sementara tidak kulakukan karena aku harus juga membuatmu bersekolah lagi seperti cita-cita kita bersama dulu. Kedua, semoga peta kita yang pernah kita buat bersama dapat kulalui walau kau tak bersama lagi sejak adanya clash dengan teman-teman terlepas kau tahu ataupun tidak dan membuat model-model agensi usaha yang selalu kita coba rancang dan buat. Walaupun aku merasa kau selalu enggan.

Kalau boleh ada dua hal yang kuminta darimu. Pertama, aku memohon maaf sedalam kalbu untuk semua hal. Arif takut kau menyesal mengenalku dengan faqir-nya aku. Kedua, semoga kita masih bisa bermain bersama lagi karena selalu saja aku merasa kau enggan.

Ayah, terimakasih banyak atas segala hal yang telah kau berikan. Entah dengan apa aku berterimakasih. Aku tidak akan pernah menyesal melewati ini semua. Sejak terakhir kita bersama sebelum ramadhan dan saat Allah memberiku kesempatan untuk sekedar mengantarmu ke bandara betapa hatiku terleraikan. Tapi tidaklah apa, hal yang biasa bagiku..Aku kan selalu menyayangmu..

Ayah,.untuk kau tahu
Saat kau datang ke Timika dan aku tahu siapa yang menjemputmu, maka aku tahu kau ber-hizb, tapi bukan batasan untuk berteman denganmu bukan..

Saat aku melihat pertama kali wajahmu di masjid Baiturrahman selepas maghrib, aku tertarik untuk padamu walau aku tahu lusuh pakaian yang kukenakan dan berbeda dengan gamis putihmu, tapi bukan batasan aku untuk berteman denganmu bukan..

Saat aku bertanya padamu pada saat itu, kau menjawab dengan kalimat yang baik, dan aku selalu menentangmu, karena begitulah aku, maka aku akan selalu belajar dan belajar..

Saat kau memberiku dua potong roti, aku tahu kau orang yang baik dan aku ingin dekat denganmu, maka aku harus berterimakasih dan membalas semua kebaikan hatimu..
Saat kau berpapasan denganku, saat kita belum dekat dulu dan kau selalu bersama teman ikhwah-mu, betapa rendah dirinya aku, tapi bukan batasan aku untuk bersahabat denganmu bukan..

Saat kau singgah ke kamarku sebelum kau harus hadiri liqa, dan mengajakku maka aku merasa malu karena siapa diriku, tapi bukan alasan aku menjauh darimu..masih ingatkah kau?

Saat kau mau kuajak makan bersama dengan ade Andi, aku hanya tahu kau berusaha menghormatiku walaupun aku tidak pantas mendapat penghormatan darimu..dan aku berterimakasih padamu..

Saat kau menelpon mengajakku lail dan menanyakan apa aku shaum, aku berharap kita bisa berteman dengan tulus..

Saat kau memberi kabar akan diwisuda dan berangkat sendiri serta memberitahukan kelahiran ade Ahmad, aku berharap bisa menemanimu dan merasakan hal yang sama walau tidak mungkin..

Saat kita mulai bersama, aku hanya ingin menjadi temanmu yang baik dengan memberi semangat agar kau menulis, semoga tidak hanya ingin menyenangkan hatiku saja..

Saat kau ajariku mengaji, aku bahagia sekali, maka aku ingin menjadi temanmu yang baik, walau dengan kepayahan aku harus belajar dan kau tahu itu..

Saat kita bersama untuk merancang sesuatu, aku merasa kau enggan tapi akan tetap kulakukan karena itu bagian terimakasihku padamu,

Saat teman-teman menyudutkanku untuk hal yang entah kau tahu ataupun tidak, kau diam dan tak memberi pembelaan, saat itu aku tahu aku harus siap menghadapi hal yang kumulai dan kurasa aku belum matang dalam berorganisasi..

Saat aku meminta pesan darimu, untuk kebaikan yang dapat kulakukan dan kau tak pernah memberikannya maka aku akan tetap mencari di setiap pemberhentian waktu dan kupikir kau tak punya kewajiban apapun terhadapku..

Saat banyak hal yang tak bisa kulakukan maka aku akan meminta maaf untukmu dengan siapa diriku sebenarnya..

Aku takkan meminta sesuatu darimu bahkan sebuah harapan agar kau ajariku mengaji dan banyak hal lainnya sudah kubuang semuanya. Bihar aku belajar sendiri karena memang tidak ada yang mengajariku.

Selalu terbayang kau tidak adil terhadapku, kau mengajari ikhwah-mu tapi tidak bagiku atau kau tampak begitu hangat kepada yang lain tapi tidak terhadapku..tapi selalu kutersadar aku bukan siapa-siapa dan tak punya siapa-siapa, jadi semua itu memang tidak harus dilakukan untukku. Pernah aku perlalukan kau seperti kau perlakukanku: tak acuh, tapi kau katakan aku menghindar dan aku mengalah.

Semua sudah berlalu dan arif tetap seperti dulu. Ingin kuakhiri semuanya, tapi aku tak pernah mampu, hatiku akan terluka dan sakit, walaupun selalu dibutuhkan dua tangan untuk bertepuk. Ayah, aku tak pernah berniat salahkan siapapun, aku yang salah, harus ada diantara episode hidupmu. Aku tidak punya hak apapun terhadap dirimu, aku bukan siapa-siapa dan tidak punya siapa-siapa, aku harus kuat, seperti sebelumnya, sebelum aku bertemu denganmu.

Hanya tertinggal sebuah harap, untuk wujudkan harapanmu. Dan andai saja tidak ada casi sayang di hatiku, maka aku tak harus menderita karenanya.

Wassalammualaykum wr, wb,.
Dengan penuh harap,


Le’

Orang yang kucintai bertanya saat aku mengunjunginya
Siapa yang berdiri di depan pintu? Jawabku aku
Katanya, kau salah kenalkan diri ketika kita dipisahkan di dalamnya
Setahun telah berlalu dan tatkala aku mendatanginya,
Kuketuk pintu dengan melemahkannya

Dia bertanya padaku: siapa engkau
Kujawab: kulihat hanya engkau di depan pintu
Dia berkata padaku: kau telah tepat kenalkan diri
Dan kau tahu makna cinta, masuklah
-Mushlihuddin Sa’di Ash Shirazy-

‘Teguhkanlah dengan dia kekuatanku. Dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku. Supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau. Dan banyak mengingatMU.’

‘Sebagian mereka ádalah penolong sebagian yang lain.’ QS At Taubah: 71

‘Seakan-akan mereka bangunan yang tersusun kokoh.’ QS Ash Shaff: 4

‘Dan, Dia mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).’ QS Al Nafal: 63

‘Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.’ QS Al Hujuraat: 10

‘Dimana orang-orang yang saling mencintai karena kebesaranKU? Hari ini, di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganKU. AKU naungi mereka dengan naunganKU.’ AL Hadits

‘Dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karenaNYA dan berpisah karenaNYA.’ AL Hadits

saat ayah milad


Bila mungkin ada luka maka kucoba untuk tersenyum
Bila mungkin ada tawa maka kucoba untuk bersabar
Karena air mata tidak abadi, akan hilang berganti
Bila hidup hampa yang dirasa, mungkinkan hati merindukan DIA
Karena hanya denganNYA hati tenang damai jiwa dalam dada

Jika memang ada masa maka kucoba untuk teruskan
Jika memang ada asa maka kucoba untuk genapkan
Karena hidup tidak abadi, akan mati berganti
Bila rindu yang dirasa, mungkinkan hati mengharapkan DIA
Karena hanya denganNYA hati tenang damai jiwa dalam dada

Irhamna, yaa Rohman yaa Rohim

Tembagapura, 25 Desember 2006
Saat milad ayah dan aku tak kuasa untuk menemuinya.
Apakah harus berharap ia sakit seperti waktu itu
agar aku bisa bersamanya
dan merasa menjadi seseorang karena ia mau berbagi sakit itu denganku